Minggu, 17 Februari 2013

Sinopsis PADA SEBUAH KAPAL



PADA SEBUAH KAPAL
Karya NH. DINI

1.      Sinopsis
Novel yang berjudul Pada Sebuah Kapal karya Nh.Dini ini menceritakan kisah perjalanan hidup seorang wanita yang bernama Sri. Kisah Perjalanan hidupnya di awali ketika Ia pulang sekolah,waktu itu Ia baru masuk tahun ajaran baru tepatnya Ia berumur tiga belas tahun. Sepulang sekolah dia merasa ada yang aneh, karena rumahnya tidak sesepi biasanya. Sesampainya Ia di depan pintu rumah, kakak laki-lakinya keluar dari pintu yang mengarah ke kamar tamu menatap dengan gerakan yang hamper berlari mendekatinya, dan dia pun di peluk dengan erat. Tiba-tiba dia mendengar suara yang parau di sela-sela isakan kakakya “Ayah sudah pergi.”, dia pun menjawab “ Jadi dia sudah pergi .”( berfikir pergi untuk kembali ), kemudian ibu nya datang menghampirinya dan membiarkan dirinya di dekap dengan mesra oleh ibunya. Seorang demi seorang kakaknya yang perempuan memeliknya, merekan memeluk dengan cara kesedihannya. Dia pun lemah tak berdaya menghadapi berita tersebut, dan seseorang menarikku untuk masuk ke kamar di mana terletak tubuh ayahnya.

Dia merasa sesuatu yang berat dalam dirinya. Ayahnya meninggal karena selama masa hidupnya menderita oleh tubuhnya yang kurus da panas, sisa penanggungan di zaman pendudukan belanda. Sri adalah seorang anak yang selalu membanggakan ayahnya, kesehariannya lebih dekat dengan ayahnya dibandingkan dengan ibunya, semasa ayahnya masih hidup mereka menghabiskan waktunya di samping rumah untuk melukis, menanam dan merawat berbagai macam pohon dan bunga. Oleh karena itu dia sangat kehilangan atas kematian ayahnya. Ketika dia berumur tujuh tahun ayahnya mendaftarkan dia kesanggar tari. Sebulan kemudian dia merasa bahwa gurunya senang akan kemajuannya. Impiannya waktu itu ialah menari di bangsal sekolahnya pada hari-hari perayaan. Dan menjelang akhir tahun pelajaran, dia menari untuk pertama kalinya di depan orang banyak, dia menarikan tari serimpi dan tarian keratin yang berisi gerakan berhias dan permainan keris. Sejak hari itu ayahnya menaruh perhatian yang tersendiri mengenei tingkatan-tingkatan pelajaran tarinya. Setiap dia pulang menari, ayahnya selalu bertanya gerakan baru apa yang sudah dia kuasai dan berapa banyak murid yang datang.

Dan ayahnya pun mengusulkan agar dia membawa kain yang lebih bagus warnanya dan sebagainya. Dan ibunya pun memberikan kain batik buatannya sendiri, kain batik dengan warna coklat kekuningan dengan gambar yang tampak jelas ketika terkena sinar lampu yang terang, dengan bentuk parang rusak kecil-kecil amat teratur, kain itu adalah hadiah yang berharga baginya mengingat perlakuan ibunya yang selama ini tidak menginginkan adanya dirinya dengan alasan empat anak sudah cukup dengan pengeluaran biaya yang besar baginya. Tetapi perlakuan ibunya selama ini tidak membuat dirinya benci kepada ibunya, dia haya menganggap bahwa dia tidak pernah merasakan hubunhan yang lebih rasa hormat seorang anak kepada ibunya. Ayah dan ibunya sangat bangga karena dia sanggup menarikan tarian keraton, dan dia pun selalu memakai kain batik pemberian ibunya itu pada waktu dia menari dengan pakaian lengkap.

Sri memasuki Sekolah Menengah Pertama dengan serba kebaruan. Namun kebaruan tersebut lebih-lebih merupakan kekosongan bagi dirinya karena kematian ayahmya. Awalnya dia tidak percaya dengan kepergian ayahnya, setiap Ia pulang sekolah, dia selalu mengharapkan suatu keajaiban datang dalam kehidupannya, suatu keajaiban yang dapat mengembalikan ayahnya pulang kerumah, namun dia sadar itu merupakan suatu kesalahan dan suatu kekeliruan karena ayahnya tidak mungkin kembali lagi di tengah keluarganya. Setelah dia ditinggalkan oleh ayahnya, dia sering pergi ke gedung kecil tempat dimana orang dapat mendengar suara gamelan yang lenbut dan penuh gairah dan semangat.

Dia selalu datang ke tempat itu ketika tidak ada latihan untuk tingkatannya, dia duduk memukul gamelan, dan keisengannya itu memberikan keuntungan yang selama ini sangat berharga baginya. Dia menari, memukul dan mengenal gamelan, dan akhirnya dia belajar menembangkan pantun-pantun yang bersendukan aneka perasaan. Sri adalah wanita yang pendiam, kata-kata yang keluar dari mulutnya adalah kata-kata yang penting saja, apalagi setelah kematian ayahnya, dia semakin menjadi wanita yang pendiam, tetapi ketika ada seseorang yang mengajaknya untuk mengikuti latihan kepanduan, dia mulai bisa berbicara, dan dia mulai bisa mengemukakan pendapat di depan sekelompok temannya. Bahkan setahun kemudian dia berani menerima tanggung jawab sebagai guru tari, menggantikan guru tari yang kadang-kadang tidak datang untuk mengajarkelas di bawahnya.

Pada suatu hari dia melihat ibunya berbicara mengenai dirinya kepada seorang kenalan yang sudah lama tidak berkunjung kerumah. Dan ibunya berkata “Sri masih seperti dulu, tidak banyak bersuara, bisanya hanya berbicara dengan kucing, dengan ayam atau tanamannya di kebun muka itu.” Dia mengetahui hari itu, bahwa ibunya tidak sejahat yang dipikirkannya semula. Ternyata ibunya juga mempunyai waktu untuk memperhatikan apa yang dikerjakannya dan pertumbuhan usianya. Dia tersenyum mendengarkan percakapan ibunya dengan orang tersebut.

Keluar dari Sekolah Menengah Atas Sri bekerja sebagai penyiar radio di kotanya (Semarang), Selain tidak ad biaya untuk melanjutkan keperguruan tinggi, dia juga merasa dirinya tidak secerdas kakak-kakaknya. Setahun kemudian kakkaknya Sutopo memutuskan pergi ke Jakarta untuk bekerja, sebagai seorang senniman. Dua tahun berlalau dia bekerja sebagai penyiar, tetapi dia mulai merasa kebosanan yang tidak terasa semakin hari semakin membuatnya murung dan sedih.karena dia merasa memiliki teman yang itu-itu juga karena lingkungannya hanyalah berkisar pada hal-hal keradioan.

Mulai hari itu dia berfikir bagaimana caranya bisa mendapat uang yang lebih dari gaji yang diterimanya di radio. Menginjak tahun yang ketiga dia benar-benar bosan pada pekerjaannya itu, di tambah Susana rumahnya saat inni tidak seperti dulu lagi, suasana rumah yang saat ini di penuhi oleh sekelompok anak kost yang yang menguasai kebun di halaman rumahnya. Pada suatu hari dia melihat pengumuman dibukanya kesempatan menjadi pramugari. Tanpa memberi tahu seorangpun akhhirnya sri memutuskan untuk mengirimkan pendaftaran untuk menjadi pramugari. Akhiornya dia mendapat panggilan untuk di uji di Jakarta, selama ujian masuk pramugari dia menginap di rumah pamannya, pada hari yang sudah di tetapkan dia datang ke gedung pinggir kota tidak jauh dari lapangan udara,untuk melaksanakan ujian untuk pendidikan pramugari.

Sesampainya di tempat dia bertemu dengan teman sekelas waktu SD Yaitu Narti yang sama akan mengikuti ujian tersebut. Ujian berlangsung selama tiga hari yaitu wawancara, tes tulis dan tes kesehatan, mereka tidak langsung mendappatkan hasil pemeriksaan kesehatan, oleh karena itu Setelah ujian berakhir Sri diajak ke Bandung ke rumah Narti, satu hari Sri di bandung, kemudian dia pulang ke Semarang, Sembari menunggu surat keputusan di terima atau tidaknya Sri Menjadi seorang Pramugari, dia meneruskan aktifitasnya menjadi seorang pnyiar, dan dia pun menceritakan kepada Ibu dan kakak-kakaknya tentang rencananya pindah ke Jakarta Untuk bekerja kalau tidak sebagai penyiare, sebagai pramugari, dan ibunya tidak menentang seperti Ibunya Narti. Beberapa hari berlalu, sepulang dari bekerja, akhirnya surat itu datang, pertama-tama yang dibacanya adalah nilai wawancara dan nilai tes tulis, hasil nilainya pun baik semua. Pada lembar yang kedua yaitu hasil pemeriksaan kesehatan. Pada pasal kelima dikatakan bahwa dokter telah melihat noda-noda yang samara di paru-paru sebelah kirinya. Sri tidak diterima untuk pendidiakn itu. Tetapi Sri diminta datang ke Jakarta lagi untuk menerima penjelasan lebih lanjut, biaya perjalanan dengan kereta api kelas tiga akan diganti. Sri sangat terpukul atas keputusan tidak di terimanya dia menjaidi seorang pramugari, karena selama ini dia mempercayai kesanggupannya untuk dapat masuk ke pendidikan itu, dia baru sadar ternyata dia tidak sesehat yang dia fikirkan, sakit kepala sedikit batuk-batuk dan sedikit susah bernafas yang selama ini dia rasakan dia anggap sebagai masuk angin biasa.  Dia sangat,sangat dan sangat kecewa, akan keputusan dari isi surat itu, Sri tidak menceritakan kepada siapapun tentang penyakitnya itu. namun dengan adanya pernyataan bahwa dia di minta ke Jakarta untuk diberikan penjelasan lebih lanjut.

Akhirnya dia mengajukan permintaan keluar dari tempat kerjanya. Kerjan (kepala bagian di radio tempat sri bekerja) tidak mempercayai keputusan sri yang ingin berhenti dari pekerjaannya, kerjan menghalanginaya untuk berhenti, Karena Sri adlah penyiar yang paling dibanggakan, juru wawancara wanita yang lancer, dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris, wanita yang berwawasan luas, wanita yang tahu betul seluk beluk seni dan budaya. Kerjan mengusulkan kepada Sri untuk meminta surat Dokter untuk berlibur.Istri kerjan (warsih) kenal baik dengan Sri, karena Warsih dan keempat anaknya belajar menari pada Sri.
Pada hari berikutnya dia pergi ke dokter kenalan ayahnya di kota itu (semarang), kemudian Sri membicarakan surat dari Jakarta. Dokter itu pun membacanya, dan menyarankan

Sri untuk segera berobak karena penyakitnya itu masih gejala-gejala.. dokter kenalan ayahnya tersebut memberikan alamat Dokter Martono (Dokter Spesialis Paru-paru), dan Sri meronsen paru-parunya, dari hasil ronsen Dokter itu berkata bahwa noda-noda yang ada pada paru-parunya akan shilang kalau Sri segera berobat dengan sungguh-sungguh. Dia menasehati untuk pindah ke kota yang sejuk dan tidak terlalu lembab. Sri memilih salatiga sebagai tempat peristirahatannya atas dasar pertimbangan-pertimbangan tertentu Sri tidak jadi keluar dari tempat kerjanya, karena sebagai pegawai pemerintah Sri hanya akan diwajjibkan membayar sebagian dari biaya pengobatan dan penginapan peristirahatan. Selama di tempat peristirahatan sri bertemu dengan temen kakaknya yaitu Yus, setiap hari Yus mengajak Sri keluar Untuk menemaninya melukis, hari-hari yang di lewati Sri di penginapan semakin cepat, selama sembilan minggu Sri berada di penginapan, akhirnya dia diperbolehkan untuk pulang.

Bulan berikutnya Sri pergi ke Jakarta untuk memenuhi panggilan dari perusahaan penerbangan, nemun sesampainya disana sri tidak di terima sebagai pramugari, tetapi sri di tempatkan di bagian kewartawanan, ada majalah perusahaan yang terbit satu bulan sekali dan oaring yang waktu itu mewawancarai Sri ketika ujjian mengatakan “ Kelak kalau ada lagi pembukaan Pendidiakan pramugari, anda akan dapat mendaftarkan diri,” Sri mengucapkan terimasaksih dan akan memberikan keputusan seminggu lagi. Sri berniat menemui Narti yang di terima sebagai pramugari, namun syang narti tidak ada di tempat, dan Sri pun menitipkan alamat dan nomor telpon kepada salah satu petugas kantor.

Sesampainya di rumah, sri meminta pendapat dari sutopo(kakaknya) mengenai pekerjaan yang ditawarkan oleh pihak penerbangan, namun sutopo menyarankan Sri untuk menolak pekerjaan itu, melihat kondisi sri yang baru sembuh, dan akhirnya sutopo membawaku ke sebuah sanggar tari milik temannya, di sana Sri belajar berbagai macam tarian mulai dari tarian jawa, bali dan sebagainya.
Dengan surat-surat dari kepala bagian di Semarang dan pengalaman kerja selama tiga tahun, Akhirnya Sri bekerja sebagai penyiar di Jakarta. Pekerjaan itu tidak asing bagi Sri kecuali gedungnya yang besar. Dua bulan Sri bekerja sebagai penyiar radio di Jakarta, rekan-rekan wanita di tempar Sri bekerja selalu sibuk dengan acara rutin yaitu gosip, pada sore hari sepulang dia bekerja, dia duduk di teras depan rumah pamannya, tiba-tiba mobil jip angkatan udara menghampiri Sri, ternyata yang turun dari mobil itu adalah Narti beserta kedua temannya Mokar dan Saputro datang ke rumah pamannya. Dan narti pun mengenalkan kedua temannya itu, Narti memuji keahlian Sri dalam menari di depan kedua temannya itu. mereka melepaskan rasa rindunya dengan saling bercerita. Sri, Narti dan kedu temannya itu berjanji suatu saat ketika diantara mereka tidak ada kesibukan mereka akan nonton bareng.

Sri tidak merasa sukar dalam mengatur jadwalnya untuk dinas dan untuk latihan menari, karena atasan sri mengerti dengan kegiatan Sri di luar dinas. Selama si sanggar tari Sri mencintai pemuda yang bernama Basir, namun cinta Sri bertepuk Sebelah tangan, karena criteria yang di idam-idamkan oleh basir untuk menjadi kekasihnya tidak sedikitpun ada pada diri Sri. Di tempat kerjanya Sri di kucilkan oleh rekan-rekannya, belum sempat memikirkan kesalahan apa yang dia perbuat terhadap rekan-rekannya itu, Sri mendapat telepon dari kakaknya yang di Semarang, kakaknya mengabarkan bahwa Ibunya meninggal karena serangan jantung, sore itu juga Sri, sutopo, beserta pamannya pergi ke Semarang.

Sesampainya di semarang semua perhatian orang di arahkan kepada Sri, Sri mencoba untuk tegar menghadapi semua ini. Sesudah hari ke tiga mereka kembali ke Jakarta, Sri melskuksn rutinitasnya kembali sebagai penyiar dan latihan menari. Saat itu Sri sering di undang istana untuk menari, dan setelah dia menari di Istana, Susana di kantor mulai memanas Sri dijadikan sebagai bahan omongan rekan-rekannya, mereka menganggap Sri adalah wanita panggilan bagi pejabat-pejabat istana.

Pada suatu sore Yus datang ke Jakarta untuk menemui Sri, pada malam harinya Yus mengajak Sri untuk keluar makan, dan Sri pun menerima ajaknanya, di tengah pembicaraan makan malam tersebut, Yus mengungkapkan perasaannya terhadap Sri, kalau selama ini Yus mencintai Sri, dan Yus ingin menikahinya, namun Sri menolak Cinta nya, dengan alasan Sri belum ingin menikah dalam jangka waktu yang dekat, setelah selesai makan, Yus mengantar Sri pulang dengan naik becak, Yus mengantar sri sampai kedepan rumah,dan Yus langsung metarik tangan sri, dan Yus memeluk dan mencium bibir Sri, Sri marah dan berjanji tidak akan pernah menemui Yus lagi, Itu merupakan ciuman pertama Sri.
Sri sering menari di istana, dan pada suatu hari Sri main ke rumah kakaknya Sutopo, di sana ada teman sutopo yng berkebangsaan amerika,kemudian sutopo mengenalkan Sri pada orang itu Carl Namanya dia adlah oaring yang sangat kaya.  Dia berniat membeli lukisan-likisan sutopo.


Pada suatu pagi, Sri pergi kebagian bahasa perancisuntuk menanyakan ucapan sebuah nama lagu yang tidak dia kenal, ketika hendak keluar, Sri bertemu dengan Biran dari bagian berita di iringi oleh seorang bangsa asing, dan orang yang berkebangsaan perancis itu lagsung tersenyum kepada Sri, ketika Sri meninggalkan ruang kerjanya sebentar tiba-tiba ada kartu nama Charles Vincent (Kedutaan Perancis), ternyata Charles mencintai Sri.

Pada malam kesenian Kongres Pemuda Se-Asia, Sri diambil oleh pemimpin seni tari untuk menari di acara tersebut. Ternyata Saputro(teman Narti) yang dulu pernah berkenalan dengannya juga hadir dalam acara itu, dan Saputro sangat terkagum akan keahliannya dalam menari, Setelah pertemuan mereka di acara tersebut Saputro sering mengajak Sri keluar, baik itu untuk nonton maupun untuk makan, mereka berdua saling mencintai, namun karena profesi Saputro adalah seorang pilot, sering sekali acara-acara keluar mereka selalu dibatalkan, karena Saputro sering mendapat tugas keluar kota secara mendadak, pada awalnya Sri merasa di nomor duakan tetapi lama kelamaan Sri menyadari akan pekerjaan kekasihnya. Pada usatu hari Saputro di tugaskan untuk terbang ke Eropa tengah, selama tiga bulan Saputro dinas di sana, selama kepergian Saputro, Sri sangat merindukan kekasihnya, sampai pada saat kedatangan saputro, keduanya tidak bisa menahan rasa rindu yang selama ini mereka pendam, dan akhirnya malam itu Sri menyerahkan keperawanannya kepada Saputro.

Keesokan harinya saputro membawakan gelang emas dan cincin bermata berlian itu merupakan sebagai tanda pertunangan mereka. Sri mulai menyiapkan segala sesuatu untuk persiapan pernikahan mereka, mulai dari pakaian dan lain-lain, mulai hari itu Sputro selalu menyebut Sri sebagai istrinya di depan teman-temannya. Selama enam minggu mereka hamper setiap hari bertemu, namun waktu istirahat Sputro telah habis, Saputropun kembali bertugas, kali inni Saputro harus terbang ke Malang, ke esokan harinya Saputro menelpon Sri memberitahu kalau Saputro akan kembali kejakarta dengan menumpang pesawat temannya karena Saputro harus mengambil pesawat lain yang masih di Halim, Saputro menggantikan temannya Nyoman yang tidak bisa terbang karena sedang sakit. Paginya Sri dinas, ketika dia sedang berada di ruang kerjannya, Sri di panggil untuk ke ruangan kepala bagian, Sri pun segera ke ruangan atasannya, di sana Sri melihat ada seorang berpakaian seragam angkatan udara yang segera berdiri ketika melihatnya datang, Sri menanyakan kepada Bapak kepala bagian ada apa beliau memanggil dirinya, Bapak kepala pun menunduk kepala dalam-dalam dan memberitahukan bahwa ada kabar yang tidak menyenangkan dari bandung, bahwa saudara Saputro gugur, Sri langsung menyanggah bahwa Saputro ada di Malang, dan orang yang berpakaian seragam itupun menyela “Kapten Saputro telah berangkat dari Malang jam delapan dua belas menit bersama Kapten Suwarno melalui semarang.

Sampai di Bandung pesawatnya jatuh, Sri langsung pinsan mendengar pernyataan tersebut, dan dia pun diantarkan pulang oleh petugas angkatan udara, ketika sadar Sri langsung memberitahukan kepada sepupunya tentang kematian Saputro. Sri tidak bisa menerima kematian saputro, dia akan tetap merindukan Saputro yang hanya sekejap menyertainya kenikmatan dunia muda yang bergerak, asri dan segar. Dunia ini terbengkalai ditinggalkan oleh Saputro. Keesokan harinya Sri dan pamannya pergi kebandung, jenazah kapten Suwarno akan di makamkan di yogya, dimana istri dan dua anaknya telah menunggu dengan kesedihan yang dia kira lebih parah dari dirinya, ketika Sri turun dari pesawat, Nyoman menyambut tangannya dan dia dibawa ke tengah-tengah teman-teman.

Dia melihat dua peti jenazah berjajar, diselubungi bendera kebangsaan. Api di sebuah tempat kuningan masih menyala. Kembang mawar, kantil dan melati tertabur berbau wangni. Dia tidak membuka peti itu karena muka dan badan Saputro hancur lebur, baginya membuka peti itu hanya akan menambah rasa sakit bagi dirinya.mereka berangkat ke Semarang beberapa menit kemudian, ibu,ayah dan adiik-adik saputro telah menunggu. Mereka memeluk Sri, Sri melihat Mokar mendekatinya dan mengulurkan tangannya,matanya merah, selama pemakaman Mokar tidak meninggalkannya barang sebentar, hatinya merasa tentaram melihat Momkar berdiri tidak jauh darinya, Makam pahlawan yang hening dan bersih itu terpaku dikenangnya. Sri kembali ke Jakarta keesokan harinya, dia kembali bekerja, seminggu kemudian dia mengajukan cuti tidak di bayar selama lima bulan, akhirnya permohonan cutinya dikabulkan, Sri berencana menenangkan dirinya selelah kematian Saputro ke Yogya, di sana ada rumah temannya sutopo yang kosong karena teman sutopo sendiri menetap di bali, Nyoman menelpon Sri dan berjanji akan mengantarkan Sri ke Yogya dua hari lagi, menurut teman-teman, Nyoman merasa bertanggung jawab atas kematian Saputro, Karena pada waktu kejadian harusnya Nyomanlah ynag bertugas, tetapi karena dia sakit, akhirnya Saputro menggantikannya.

Sri telah diajarkan oleh Saputro untuk mencintai teman-temannya seperti dia mencintai saudaranya sendiri. Ternyata Carl juga minggu depan berencana ke Yogya, awalnya Carl mengajaknya berangkat bersama, tetapi karnya Nyoman dua hari lagi akan menjemputnya untuk ke Yogya, Akhirnya Sri berangkat ke Yogya, dan Sri berjanji akan menemani Carl ke pantai parngkritis ketika carl sudah ada di Yogya. Selama di yogya Sri menghabiskan waktunya berama Carl, ketika mereka pergi berjalan-jalan keluar, Carl mengungkapkan isi hatinya dan berniat menikahinya, namun Sri ragu akan cinta Carl, dan ternyata benar, Carl menyombongkan hartanya, kata-kata yanga paling menyakitkan bagi Sri yaitu ketika Carl berkata “Kau bisa meminata perjanjian perkawinan yang paling mahal, aku akan memberikannya, kau akan bahagia denganku.” Sri menolak Carl dengan alasan dia tidak mencintainya, lagi pula baying-bayang wajah Saputro masih terlihat jelas di ingatanya, selain itu pula Sri tidak yakin akan kemampuan dirinya untuk mempertahankan Carl ketika dia menikah dengan carl, gaya hidupnya terlalu berbeda dengan gaya hidupnay, dia sangat kaya dan tampan sedangkan dirinya merasa orang yang sederhana.

Sepuluh bulan kemudian Sri menikah dengan Charles Vincent, tetapi kakaknya sutopo menentang pernikahan mereka, Sutopo menganggap Sri belum terlalu mengenal Charles dengan baik, dan lagi Charles adalah seorang yang bekerja di kedutaan Perancis, karena dirinya seorang Negarawan maka Sri pun harus beralih kewarganegaraannya, kemudian sutopo mengatakan kalaupun Sri mau menikah dengan orang asing kenapa harus menolak Carl orang yang selama ini dia kenal baik hati. Lalu Sri menyanggah perkataan sutoppo yng barusan, Sri lebih mengenal sifat Charl tentang sifatnya yang jelek, Sri menceritakan kejadian selama dia berada di yogya ketika bersama Charl. Setelah Sri memutuskan menikah dengan Charles saat itu pula permusuhan diantara Sri dan Sutopo di mulai, Sri merasa sakit hati karena Sutopo selalu membantah keinginannya untuk hidup bersama Charles.

Sri merasa sudah cukup mengenal Charles selama dia berada di Yogya dia selalu berkomunikasi dengan Charles lewat surat, waktu Charles liburan Pantekosta di datang kejakarta, setiap hari Charles mengajaknya nonton film, keluar makan, dia merasa senang berada di dekat Charles, Charles adalah seorang pria yang berwawasan luas, dan Sri adalah wanita yang haus akan pegetahuan baru, setiap kali jalan keluar, Charles membicarakan hal-hal yang belum pernah Sri ketahui,jadi perbincangan mereka sangat menarik.Charles adalah seorang duda yang di tinggal mati oleh istrinya, selama sepuluh tahun dia belum menikah lagi, itu yang membuat Sri lebih mengagumi akan kesetiaannya terhadap pasangannya.dan Sri pun menceritakan tentang Saputro.

Pada suatu hari Charles mendapat tugas ke jepang,dan akhirnya Charles dan Sri pergi ke jepang, selama tinggal di jepang Sri baru mengetahui sifat dari suaminya yang sebenarnya, dia terlalu,egois,otoriter serta terlalu ikut campur dalam urusan rumah tangga,mulai dari memeriksa pekerjaan pembantu, membersihkan lantai sampai ke urusan dapur. Sri pun baru menyadari bahwa dirinya telah menikahi orang yang salah, Sri merasa bahwa dirinya telah dikekang oleh suaminya. Charles menganggap Sri terlalu boros, karena Sri telah membeli pakaian tebal karena pakaian yang dia bawa dari Indonesia terlalu tipis di pakai untuk di daerah dingin seperti Jepang. Sri pun mengandung,dan seperti biasanya Charles tidak mengizinkan Sri untuk membeli baju hamil, seadngkan baju-baju yang selama ini dia pakai sudah tidak cukup untuk dipakai oleh orang yang sedang berbadan dua, yang lebih menyakitkan lagi ketika Charles selalu mencemoohkan Sri di hadapan teman-temannya, dan perlakuan seperti itu sering Sri alami.

Namun Sri selalu sabar menghadapi suaminya itu, karena Sri dibesarkan dalam keluarga yang sangat menghargai yang namanya pernikahan, Sri selalu di ajarkan oleh ibunya untuk menjadi istri yang patuh pada suami, namun karena Sri sering merasa dirinya telah direndahkan oleh suaminya, niat untuk menumbuhkan rasa cinta kepada Charles telah pupus, karena bukan rasa cinta yag akan hadir, tetapi kebencian yang mendalam yang dia rasakan terhadap suaminya. Ketika usia anak Sri memasuki umur dua tahun, carles mengajukan cuti panjang, dan merekapun berlibur ke Jakarta selama satu bulan, kemudian mereka melanjutkan liburannya ke Marseile, namun Charles mempunyai rencana berlibur sendirian ke India, oleh karena itu, Sri dan anaknya di lepaskan Charles di Saigon dengan menggunakan kapal laut, sedangkan charles sendiri berlibur ke India seorang diri dengan menggunakan pesawat.

Di kapal itulah cinta terlarang Sri dengan seorang komandan kapal yang sudah beristri dan mempunyai dua orang anak di mulai, komandan tersebut bernama Michel, Michel adalah seorang laki-laki yang telah dikecewakan oleh istrinya (Nicole), sebelum Michel menikah dengan Nicole yang sekarang menjadi istrinya, tidak ada sedikitpun rasa cinta dalam diri Michr\el, karena Michel merasa bahwa karakter yang terdapat dalam diri Nicole tidak sedikitpun menggambarkan wanita impiannya, Nicole berumur lima tahun lebih tua dari Michel. Michel menikahi Nicole karena ibunya Michel sendiri yang menginginkan pernnikahan itu terjadi, karena ibunya Michel sudah mengetahui gaca pacaran Michel dan Nicole.
Sri yang selama ini tidak merasakan kebahagiaan dari suamimnya, dia merasa ada suatu getaran yang amat sangat mendalam ketika bertemu dengan komandan kapal, Karena kekuatan akan ketenangan,kenyamanan dan kelembutan ketika Sri berada di samping Michel, Sri melakukan hubungan badan dengan Michel sebelum Sri mengetahui siapa nama orang yang sudah tidur bersama dirinya. dikarenakan ketampanan,kegagahan dan kelembutan dari sosok Michel pun merasakan bahwa Sri adalah wanita yang selama ini di carinya karena keibuannya, kelembutannya, keramahannya dan kemanisannya. Kekaguman Michel kepada Sri bertambah ketika Sri Menari tarian jawa di pesta yang di adakan oleh para pengelola kapal, bukan hanya Michel saja yang terkagum, seluruh awak kapal pun merasa tersanjung atas kepiawaian Sri dalam menarikan tarian jawa, meskipun Sri menari dengan pakaian tari yang tidak lengkap, karena Charles suaminya selalu melarang Sri untuk melakukan kegiatan yang berunsurkan budaya timur (Indonesia).

Selama perjalanan mulai dari Saigon sampai Marseille Sri merasa dirinya telah menemukan kebahagiaan yang selama ini dia harapkan dari sesosok suaminya, namun sayang orang yang bisa menenangkan hatinya itu adalah kekasihnya, bukan suaminya. Malaam itu adalah malam perpisahan Sri dengan Michel, Sri dan Michel pun merasa tidak percaya akan adanya perpisahan yang akan mereka alami besok, karena ketidak relaan Michel untuk melepaskan kekasihnya itu, maka Michel memutuskan untuk tidak melihat Sri turun dari kapal meninggalkan dirinya, apalagi ketika melihat Sri di jemput oleh suaminya (Charles). Dan akhirnya mereka berpisah.

Sri dan Charles meneruskan liburannya di Perancis, seperti biasanya, Charles tidak memperdulikan Sri sebagai istrinya, selama liburan Sri hanya diperlakukan sebagai kacunngnya, tanpa memikirkan bagaimana perasaannya. Setelah pertengahan musim gugur, mereka kembali ke Kobe, sesampainya mereka di Kobe, Sri mendapatkan surat dari Michel, dimana surat yang sudah datang dari dua minggu yang lalu berisikan kabar bahwa ada kemungkinan buat Michel untuk membawa kapal yang akan berlabu di jepang. Dengan susah payah Sri mencari informasi di pegawai pelabuhan tentang kedatangan Michel di jepang, akhirnya Sri mendapatkan informasi bahwa kapal yang akan di bawa Michel akan datang dua bulan lagi. Sri selalu menunggu datangnya bulan tiu, untuk mengatasi kejenuhannya menunggu Michel yang akan datang dua bulan lamanya, Sri menyibukkan diri untuk membantu dua mahasiswa yang akan menyelenggarakan pengumpulan amal untuk panti asuhan, dengan pagelaran seni tari.

Carl yang ketika Sri baru pulang dari prancis sudah ada di jepang, dia sedang melanjutkan stadinya di Kobe, sekarang Carl sudah menikah dengan teman wanitanya semenjak kecil. Namun ketika kehadiran Carl yang kedua kallinya dalam hidup Sri, dan mungkin dengan kondisi rumah tangga Sri saat itu, Sri merasakan suatu getaran yang berbeda dari sebelumnya, namun kekuatan getaran itu tidak menggoyahkan hati Sri yang terlalu tegak oleh tongkat cinta yang di berikan Michel kepadanya. Acara penggalangan amalpun dilaksanakan, Charles dan Carl pun hadir pada acara tersebut, dan Carl adalah donator yang paling banyak menyumbangkan uangnya untuk anak-anak panti asuhan di kota itu. Dengan berjalannya waktu, keadaan rumah tangganya semakin tidak bersahabat, mungkin karena rasa kebencian,kemuakan nya terhadap Charles yang semakin hari semakin menjadi-jadi.

Dan akhirnya waktu yang selama ini dia tunggu dimana Michel berada di Negara yang sekarang dia tempati, Dua kali Sri mencari alasan kepada Charles agar dia bisa bertemu dengan charles. Hari petama Sri menemui Michel dengan alasan akan menonton pertunjukan seni tari, dengan berat hati Charlespun mengizinkan, dan Sri pun pergi dari rumah sendirian dengan meminjam mobil nyonya Darti (istri kepala konsul Indonesia) mengingat ketidak senangan Charles terhadap pertunjukan seni. Sri pun berhasil sampai di pelabuhan untuk menemui Michel walaupun semapat kucing-kucingan dengan petugas pelabuhan, mengingat jabatan dari suami Sri adalah sebagai wakil konsul Perancis, sehingga tidak seikit dari para karyawan kapal yang mengenal Charles dan Sri.

Akhirnya merekapun bisa bertemu kembali dan mereka langsung masuk ke kamar untuk melepaskan rasa rindu karena sudah lama tidak ketemu. Haripun sudah mulai gelap, dan Sri pun meninggalkan kapal dan segera bergegas pulang karena di rumah anaknya sudah menunggu dia. Pada keesokan harinya Sri pun mencari alasan kembali untuk bertemu dengan michel mengingat hari itu adalah hari terakhir michel berada di Jepang karena dia berada di Jepang hanya dua hari, dan Sri pun bertemu kembali dengan Michel, hari itu Sri di ajak Michel menikah dan ikut bersama dirinya berlayar keliling dunia dan hidup bahagia bersama Michel, namun Sri menolak ajakan Michel dengan alasan di antara mereka sudah mempunyai pasangan hidup masing-masing walaupun kehidupan keluarga mereka tidak pernah diselimuti kebahagiaan, namun di antara mereka ada seorang anak yangn membutuhkan keduanya. Seolah memberi harapan kepada Michel, Sri menyarankan kepada Michel agar dia pindah kerja dari lautan ke daratan, Sri pun memberi tahu rencananya yang akan pindah ke Paris karena tugas Charles pindah di paris, dia aka tinggal disana paling sedikit tiga tahun.

Merekapun berpisah kembali walaupun dengan hati yang sangat-sangat berat. Michel melanjutkan perjalanannya dan Sri pun melanjutkan hidup nya bersama Charles dan putri cantiknya. Mengingat akan perkataan Sri yang akan pindah ke paris, Michel pun mempunyai rencana untuk pindah ke darat, namun karena kecintaannya terhadap laut, dan dengan posisi Sri saat ini masih menjadi seorang istri dari Charles, dia memutuskan untuk tidak pindah pekerjaan dari laut ke darat. Selama dua hari Michel berlibur ke paris, ingat akan perkataan Sri yang rencanya pindah keparis, waktu yang sigkat Michel gunakan untuk mengenal kota kota paris, dengan harapan ketika Sri datang ke Paris Michel akan mengajaknya mengelilingi paris.

I.                   Kata menarik
Suaranya yang parau di sela-sela isakannya. Berbicara melalui cat. Berbudi manis. Badannya mengerut dan wajahnya bersinar. Tolonglah sedikit, jangan hanya melotot melihat dengan matamu yang terlalu besar itu. Perempuan adalah wakil dari kehalusan, kesucian dan keindahan. Kebaruan itu lebih-lebih merupakan kekosongan. Aku melihat keluar seperti hendak menghindari suatu dinding yang melapis di depan mataku.
Mengecap hidup berpandu. Aku mulai mempunyai semacam ikatan perasaan yang jernih dengan setiap daun yang tumbuh, setiap akar anggrek yang menelusup sabutnya, setiap ikan emas yang bergerak mengkibas-kibaskan ekor yang megah itu.

Aku berbicara pada isi kebun itu sperti kepada sahabat-sahabat yang baik. Pengambil inspirasi dan bergerak dengan ketenangan yang kentara. Kau akan tidur sendirian di hotel, kawan-kawanmu awak pesawat di kamar sebelahmu, coba bayangkan, pada suatu malam kau mau keluar, atau pulang terlalu malam dari dansa-dansa di kota tempatmu singgah, bisa saja seorang dari mereka turut masuk ke dalam kamarmu.

Tidak usah sebagai pramugari kalau memang aku mau seorang laki-laki masuk ke dalam kamarku, aku tentu akan memasukkannya. Pramugari adalah pekerjaan yang membutuhkan kekuatan rohani dan jasmani sepenuhnya. Di rumah-rumah berpetak seperti penyewa-penyewa yang tidak berhak berbuat semuannya.
Perlahan aku berjalan mendapatkannya. Jauh di bawah tercurah aliran air yang tipis memutih menghilang di sela-sela semak yang padat. Di sana-sini terdapat permainan warna yang kaya, kami terdiam memandanginya. Gunung merbabu tidak kelihatan dengan jelas oleh langit yang penuh gumpalan mega.

Berhasil atau gagalnya seseorang tergantung kepada kekuatan masing-masing. Suatu perasaan kekerasan dan kekenalan akan sesuatu yang melingkungiku. Aku ditumbuhkan di tengah-tengah timbunan warna dan cat yang berbau tajam, kain lukisan dan kuas menyapu papan yang melekat. Kemudian kakak yang paling dekat di hatiku menyuap pandangku sedari bayi dengan gambaran-gambaran yang dibentuknya.

Cinta tumbuh dari kebiasaan. Aku merasa hari itu bahwa perhatian orang ditumpahkan kepadaku, dengan susah payah aku mencari sebab-sebabnya. Kasihankah orang kepadaku? Mengapa? Aku anak bungsu yang kini menjadi piatu? Ataukah karena aku pernah sakit? Karena aku pernah dirawat di rumah peristirahatan oleh penyakit yang di cap oleh masyarakat sebagai penyakit yang tidak tersembuhkan?

Hatiku serasa kecut. Apakah arti bersinggungan dengan jenis lain kalau tidak disertai rasa birahi atua cinta. Aku hanya bisa menari, dan aku ingin menari sampai tenagaku mengizinkan.

Ada duri yang tertancap dalam hatiku. Tidakkah kau pernah mengalami perasaan seperti itu? Kau raba sendiri bibirmu dikegelapan dengan bayangan seorang seolah-olah itu bibir kekasihmu yang menyentuh bibirmu! Bahwa itu adalah jari-jari orang lain yang meraba wajahmu.
Hingga kini ada seorang gadis dalam hidupku. Bapaknya orang terkaya di pontianak. Setelah empat kali ku cium, dia berkata bahwa dia telah bertunangan dengan laki-laki pilihan bapaknya. Sejak itu aku hanya jatuh cinta saja, karena jatuh cinta adalah hal yang sering terjadi, sedangkan mencinta hanya terjadi satu kali.

Diam dan melipat kepalaku sedalam mungkin seperti seperti seekor burung unta yang bodoh. Dahan-dahannya rindang subur berjuluran seperti tangan-tangan yang melindungi isi kebun dari sentuhan langit. Pada waktu mengucapkan pidato, suaranya yang terkenal menerobos sampai ke pelosok kebun yang kelam.

Matanya langsung menusuk pandangku. Dia memandangiku dengan mata yang mengatakan kelembutannya, bicaranya renyah serta menginsafkan akan perasaannya terhadapku.

Ku hitung sudah lebih dari empat orang yang menciumku, sri. Tapi selama itu aku tidak pernah merasakan tekanan kehendak yang merangsang sampai kekepala. Bagiku cinta adalah kehadiran. Suara pegunungan bergumam menyatu dengan gericik air sungai yang kelihatan dari tempat kami seperti seulas lidi. Aku seperti tertampar oleh kilatan apai yang memedihkan.

Apalah arti peresmian itu kalau memang hati kami telah menyatu.
Apakah yang mesti kami tungggu untuk saling melumat satu dengan lainnya, memasabodohkan hukum yang hanya dibikin oleh manusia abad-abad terakhir. Tubuh lemas tertampar oleh hawa yang sesak.

Kurindukan kepada dirinya tiba-tiba amat meletihkan. Mulutku serasa tertutup pandanganku beralih dari kepala bagian siaran kepada orang itu kesungguhan pengucapan yang tertera dikedua wajah itu begitu mengerikan, mata keduanya menatapku dengan lemah dan sayu, menjanjikan rasa simpati yang tak berkeputusan. Bibirku ku rapatkan untuk menguatkan diri. Aku merasa seolah-olah sebilah pisau yang tajam ditusukkan orang ke jantungku, perlahan, perlahan sekali tapi langsung dan pedih. Tubuhku serasa lungkai, garis-garis kayu meja didepanku semakin lama semakin kabur, akhirnya mneghiang. Aku berjalan seperti didorong keluar dari tempat itu.

Wajah seorang anak perempuan adalah wajah tempat berlabuh teduh dan temaram. Kami telah bersatu tetapi kami akan menyatukan diri lagi tanpa memilih waktu dan tempat karena masyarakat telah mempunyai undang-undang peradabannya yang dinamakan perkawinan.

Begitu dalam perasaan ini ku tanamkan dihatiku, sehingga ketika peti jenazah ditimbuni tanah, segumpal demi segumpal aku merasa seolah sesuatu lepas dari diriku, seolah sebagian dari hhidupku turut terkkubur bersamannya. Aku tentunya telah berteriak setinggi langgit.

Daun-daun dan cabang pohon menutupi langit dari sinar matahari. Jawab itu seperti sebuah perhiasan yang diletuskan orang ditelingaku. Kau bisa meminta perjanjian perkawinan yang paling mahal, aku akan memberikannya. Orang-orang barat kebanyakan tidak berkeberatan akan masih suci tidaknya seorang perempuan yang menarik hatinya yang akan dikawinnya.

Cinta seorang suami amat tergantung kepada kesanggupan istrinya memasak. Dadaku mengucup oleh berbagai kata yang ingin ku katakana. Aku sadar akan kehilanganku, pemuda-pemuda di Negriku menganggap seorang wanita yang telah kehilangan kesucian nya sebagai sesuatu yang rendah.

Pikirang orang disurat sama sekali tidak bisa ditandai sebagai cermin watak. Aku lebih biasa dikatakan kawin dengan alasan daripada kawin dengan hati. Aku menerimannya beberapa kali menyatu dengan diriku, tetapi kehendak telah meninggalkan rasa-rasaku aku menjadi pasip.

Seorang istri adalah bayangan suaminya. Suami adalah raja dan wakil tuhan yang harus dianut dan diikuti segala perintahnya. Seperti binatang, mereka bergerak mengitari betina-betina yang kelihatan tidak berdaya. Dari ciuman dan cara laki-laki memegang seseorang dalam pelukannya, aku bisa menentukan bagaimana dia memperlakukan pasangannya ditempat tidur.




II.   UNSUR INTRINSIK NOVEL

1. TEMA        : Kisah perjalanan seorang wanita mencari kebahagiaan yang hakiki
2.  AMANAT : Amanat yang terkandung dalam novel ini yaitu :
a. Belajarlah untuk menerima takdir yang sudah di gariskan dalam hidup kita.
b. Teruslah berusaha untuk memperoleh akan pengetahuan yang belum pernah kita ketahui.
c. Wanita adalah wakil dari kehalusan, kesucian dan keindahan, oleh karena itu kita harus mempertahankannya.
3. ALUR : Maju-Mundur, artinya dalam novel ini menceritakan perjalanan hidup dirinya sendiri pada saat sekarang dan kemudian mundur dengan menceritakan kehidupan dirinya pada masa yang lalu.
4. TOKOH : Sri, Sutopo, Narti, Kardiah, Kerjan, Warsih, Yus, Basir, Pribadi, Kati,Saputro, Mokar, Tobing, Lubis, Miryati, Carl, Charles Vincent, Nyoman, Daniel, Darti, Nyonya Beuder, Tuan Haller, Nyonya Hench, nyonya Aleksis,
5. LATAR : Semrang, Jakarta, Bandung, Yogya, Kobe (jepang), Saiogon, Marseille, Perancis, Paris.
6.  SUDUT PANDANG DAN GAYA PENULUSAN
a. Sudut Pandang : Dalam novel ini menggunakan sudut pandang orang pertama (Aku)
b. Gaya Penulisan : Bahasa yang digunakan Nh. Dini dalam penulisan novel ini sudah dapat dengan mudah di pahami oleh pembaca, akan tetapi ada beberapa penulisan kata-kata yang harus diteliti maknanya oleh pembaca, namun kata-kata tersebut masih bisa diikuti oleh pembaca.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar